Belajar Fotografi dari Fotografer Kece, Mieke Lewis
 13 Mar 2017 00:00  Photography  Berita  Pendidikan

Fotografi adalah skill yang mesti dikuasai oleh para blogger sama pentingnya dengan keterampilan videography

Sabtu, minggu yang lalu, saya belajar smartphone videograpy kemudian hari ini, Sabtu (11/3/2017) kembali saya menambah ilmu Photography langsung dari praktisinya, Dr. Mieke Suharini, S.Pd, M.Si, educator, fotografer, model yang hobby travelling dan sharing keilmuan.

Bagi saya, fotografi adalah skill yang mesti dikuasai oleh para blogger sama pentingnya dengan keterampilan videography sebab secara langsung meningkatkan kualitas blog. Jika blog kita sudah berkualitas maka traffic/kunjungan ke blog kita pasti juga akan meningkat.

Yang menarik di workshop fotografi ini selain narasumbernya yang kece dan berpengalaman juga karena pesertanya keren-keren. Bagaimana tidak, pesertanya bukan hanya dari Jakarta, Bekasi dan Tangerang tapi juga beberapa orang datang jauh-jauh dari Garut, dari 24 peserta yang hadir saat itu, separuhnya orang Garut. Jang Ipan, Blogger Garut sebagai koordinator.

Ohh iya, saya ingin berterimakasih buat Mas Hutomo dari forum liputan6.com yang ganteng sudah memberikan fasilitas tempat sekaligus menyediakan 'bancakan'nya (bancakan = Santapan atau makanan). Ruangannya nyaman dan representatif di Lantai 14 SCTV Tower, Kuningan City. Bagi komunitas Taudariblogger (TDB) tempat ini sudah tidak asing lagi, sudah dua kali komunitas TDB menyelenggarakan kegiatan di sini. Sebelumnya, workshop tentang Vlogging bersama Dr.Gina Rahmalia (Vlogger).

By the way, saya amat antusias mengikuti workshop kali ini sebab dari dulu saya sudah tertarik menekuni dunia fotografi. Berhuhung dulu sering bolos waktu kuliah fotografi di jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam sehingga ilmunya asal nyantol aja. Mungkin ada yang nanya bang Kuliah dimana? Itu sih tidak penting,hehehe...

Ehhh...Pucuk dicinta ulam pun tiba, bisa ketemu momennya untuk belajar lagi tentang fotografi. senang dong pastinya, ini kesempatan baik nih pikir saya, aji mumpung..ayo belajar !
****

"Simple Guide to Creative Photography"

Workshop yang bertema "Simple Guide to Creative Photography" atau Cara Sederhana Membuat Fotografi Kreatif menghadirkan narasumber kece, Dr.Mieke Suharini, sudah cantik jago motret pula. Dia suka travelling sekaligus hunting foto, saat ini dia sedang menggandrungi hobby barunya yakni bermain drone. Hmmm...cakep !

Di workshop ini peserta tidak hanya dibekali teori tapi juga praktik. Dibuat sesimple mungkin, materi yang menurut saya buat satu semester dibahas selama 4 jam. Padat bukan?

Mba Mieke melatih bagaimana cara menggunakan kamera DSLR yang baik dan benar agar bisa menghasilkan foto kreatif yang menarik. "Foto yang baik harus bisa bercerita," katanya. 

Caranya dengan mengetahui settingan manual sebuah kamera entah itu DSLR ataupun Mirrorless. Fotografer jangan sekedar tahu settingan automatis, karena kalau begitu anak TK juga ngerti..hahahahaha.

Langkah pertama, kita diberi pengenalan dasar tentang fotografi secara defenisi dan perangkat pendukung kamera. Secara defenisi, Fotografi berasal dari bahasa Latin, photos artinya cahaya dan Graphy artinya artinya melukis jadi photography adalah melukis dengan bantuan cahaya. Mengingat, unsur utama sebuah fotografi adalah cahaya artinya jika cahaya nggak ada nggak akan ada hasil foto.

Setelah itu, pengenalan fungsi atau cara kerja sebuah kamera. Disebutkan ada 3 komponen penting yang wajib dikuasai fotografer yang dikenal dengan "segitiga eksposure", yaitu Aperture, Shutter Speed dan ISO. Masing-masing kamera memilki kode huruf yang kadang berbeda untuk 3 komponen tersebut. Aperture/Diafragma adalah celah yang terdapat di dalam lensa yang dapat diatur besar kecilnya untuk mengatur sedikit banyaknya cahaya. Semakin besar diafragma semakin banyak cahaya yang menyinari film/sensor. Sebaliknya semakin kecil diafragma maka semakin sedikit cahaya yang menyinari film/sensor. Diafragma pada lensa kamera yang biasanya diberi kode F/angka.

Shutter Speed adalah waktu yang dibutuhkan oleh jendela rana untuk membuka atau menutup kembali yang menentukan lamanya proses pembakaran/eksposing film. Kecepatan rana yang membuka/menutup berpengaruh terhadap efek gerak objek yang terekam. kecepatan bukaan rana juga mempengaruhi pencahayaan yang sempurna, mengontrol Blur, dan membuat efek yang menarik (kode 1/angka detik).

Sedangkan ISO adalah ukuran tingkat sensitifitas sensor kamera terhadap cahaya. Semakin tinggi setting ISO kita maka semakin sensitif sensor terhadap cahaya. ISO rendah artinya lebih sedikit cahaya diserap sensor kamera. Sebaliknya ISO tinggi lebih banyak cahaya yang diserap sensor kamera. Iso rendah menghasilkan foto lebih gelap tapi jernih dan minim noise (bintik), sedangkan ISO tinggi menghasilkan foto lebih terang tapi foto lebih noise.

Bingung ya? Prinsip dasarnya begini, pada kondisi cahaya minim, speed untuk merekam biasanya lambat akibatnya gambar rentang bergoyang atau shaking. Cara menyiasatinya adalah dengan menaikkan ISO, membuka diafragma sebesar mungkin, menggunakan penyangga kamera (tripod,meja dll) dan menggunakan flash (blitz).

Fotografer yang menguasai prinsip pengaturan Iso, diafragma dan speed secara manual akan bisa menghasilkan foto yang menarik. Foto yang menarik itu seperti apa? Foto yang bisa bercerita sendiri meskipun tanpa caption selain itu memiliki komposisi yang tepat.

Komposisi adalah penempatan berbagai elemen yang akan dimasukkan pada bidang gambar. Elemen mencakup garis, letak, bentuk, warna dan pencahayaan sehingga menjadi Point of Interest (POI) atau titik pusat perhatian yang langsung menarik perhatian bagi orang yang melihatnya.

Komposi dasar yang harus diketahui antara lain ; 
1. The Rule of Third (Aturan sepertiga bagian).
2. Refleksi
3. Framing
4. Vertikal Horisontal
5. Background dan foreground
6. Warna
7. Garis
8. Angle of View
9. Perspektif

Poin satu maksudnya, Komposisi untuk proporsi sepertiga bagian artinya ketika mengambil foto objek utama atau Point of interest tidak tepat ditengah tapi bisa agak kesamping. Tujuannya untuk estetika agar lebih enak dipandang. Untuk  Penjelasan 2-9 kamu bisa cari sendiri di google. :D

Yang pasti Kemampuan seorang fotografer bisa terasah seiring dengan meningkatnya jumlah jam terbang. So, "practice makes perpect," pesan mba Mieke.

"The Man Behind the Gun." imbuhnya. Kalau saya artikan begini, kamera ibarat senjata tetap saja benda mati tidak akan berfungsi apabila tidak ada manusia yang pandai yang mengoperasikannya.

Sudah selesai? Belum. Fotografer harus juga pandai mengoperasikan photoshop, tujuannya untuk membuat digital image atau rekayasa foto supaya efek terlihat lebih menarik. So, kemampuan fotografer bukan hanya pada penguasaan teknik pengambilan foto tapi juga mahir pasca produksi dengan mengolahnya memjadi menarik melalui photoshop.

Itulah poin-poin penting yang disampaikan oleh mba Mieke Lewis dalam workshop hari itu. Tidak semua bisa dibahas di sini. Paling tidak ada gambaran tentang apa itu fotografi. Kesimpulannya, fotografi adalah skill bukan bakat. Berbicara skill berbicara praktik, pepatah mengatakan 'ala bisa karena biasa'. Kalau kata orang Inggris, "practice makes perpect"~ praktik membuat sempurna. Sama halnya dengan berenang, sehebat apapun teori yang kamu kuasai jika tidak dipraktikkan maka hasilnya sama dengan nihil alias gagal.

Jika ingin melihat profil dan hasil foto kreatif mba Mieke atau mau bertanya bisa langsung colek di istagramnya @miekesuharini. Selamat mencoba !