Kisah Denda Tilang 500 Ribu
 28 Feb 2017 00:00  Hukum  Berita  Umum

Pak, mobilnya diderek sama DLLAJ dibawa ke Terminal Rawamangun


Senin pagi kemarin, ceritanya saya diajak nemanin si Bos mengurus BPJS kesehatannya. Saya, si Bos dan anaknya, Iwan janjian di sebuah lokasi di Jatiwaringin, dengan memakai mobil milik Iwan, Kami pun meluncur ke bilangan Rawamangun. Berhubung dari kami nggak ada yang tahu dimana letak kantor BPJS yang baru pindah dari Jalan Balai Pustaka, saya pun coba googling dan ketemulah satu alamat yakni di Jalan Sunan Giri,  nggak jauh dari kantor lama BPJS.

Setelah meraba-raba jalan, akhirnya sampailah kami tepat di depan kantor BPJS. Saya sama bos turun dari mobil lalu bergegas masuk ke kantor. Iwan anak bos melanjutkan mencari tempat parkir yang kosong.

Sesampai di dalam, Keadaannya sangat crowded alias membludak oleh pengunjung. Antriannya sampai 3 jalur, Wah, ternyata orang Indonesia masih sangat antusias dengan program ini, konon katanya dengan BPJS, kini orang miskin nggak takut sakit lagi, hehehe. Tapi nggak apa-apa, saya tetap sabar antri mengambil nomor antrian, ingat ! ini baru nomor antrian loh belum lagi antri di depan ruang pelayanannya. Hitung punya hitung, mungkin sekira sejam saya ngantri hingga selesai mendapat pelayanan. Di sela-sela saya mengantri, Iwan datang menyusul kami di dalam kantor, mungkin karena bete menunggu lama di mobil. Katanya sih, mau pamit mau jalan karena ada meeting di tempat lain. 

Balik lagi ke antrian, akhirnya nomor antrian pun saya peroleh dengan nomor urut 32. Menunggu dua orang lagi untuk giliran kami dipanggil. Nggak lama kemudian nomor antrian kami pun dipanggil, kami masuk ruangan khusus aduan dan denda. Tanpa lama, akhirnya layanan selesai juga. Kami pun lega, dan balik kanan kembali ke mobil. Iwan masih ada bersama kami saat itu di ruangan.

Bergegas kami menuju mobil. Setelah celingak celinguk kiri kanan, Iwan panik dengan wajah tegang, "mobil hilang! "Sahutnya. Buru buru dia samperin tukang parkir menanyakan mobilnya. "Pak, mobilnya diderek sama DLLAJ dibawa ke Terminal Rawamangun," kata si tukang parkir.
"Apa saya bilang pak, mobilnya jangan ditinggal, jadi gini kan," sang juru parkir membela diri.



Ya sudah, kami pasrah, dan cepat-cepat naik angkot menuju terminal Rawamangun. Setiba di sana, mobil sudah ada di halaman samping terminal yang sudah dipasang pengunci roda. Oleh petugas berpakaian dinas yang menemui kami mengatakan kalau mobil ini harus ditebus sebesar 500 ribu sambil menyodorkan kertas yang tercantum nomor virtual account, rekening yang dibuat khusus untuk membayar denda tilang. Nggak banyak yang bisa kami lakukan saat itu karena memang aturannya begitu, Tilang online ! 

"Oh iya pak, semenjak Ahok naik (jabat Gubernur) aturannya begini (bayar online)," kata salah satu tukang ojek yang mangkal di sana.

Sambil menunggu Iwan transfer, saya berdua si bos duduk di pos satpam depan, iseng-iseng saya hitung berapa kali mobil derek masuk membawa 'mangsa' mobil yang bernasib sama dengan kami, saya hitung ada 10 mobil yang diderek. Saya pun tanya sama si tukang parkir tadi, "berapa banyak biasanya kang, mobil diderek setiap hari ke sini?"

"Wah mas, sehari bisa 30 mobil yang masuk," pungkasnya.

"Wow...30 kali 500 ribu berapa tuh pemasukan DKI sehari untuk tilang ini aja, bisa 15.000.000 perhari, di sini,  belum wilayah lain, " kata si Bos sambil membelalakkan matanya.

"Kaya deh Jakarta," timpal saya.

"Iya sih mas, gara-gara aturan ini, rakyat kecil jadi sengsara, kata petugas urus saja di kantor paling sebentar mobil bisa diambil lagi, nyatanya hampir sejam mobil belum bisa diambil karena harus transfer dan antar bukti pembayarannya ke Tanah Abang," sahut sopir truk yang juga kena tilang.

Nggak lama kemudian, Iwan datang selesai transfer. Oleh petugas diminta mengurus lagi di Tanah Abang,  terus balik lagi ke Rawamangun, baru mobil bisa diambil.

"Ribet amat nih urusannya," ujar Iwan.

"Online harusnya mempercepat ini malah sama aja ribet,kenapa harus ke sana (tanah abang ) segala padahal sudah saya bayar 500 ribu," lanjutnya dengan muka kesal.

Tiba-tiba, si Tukang ojek yang tadi menawarkan diri untuk membantu.

"Mas, mau saya bantu?" tanyanya dengan sopan.

"Bantu apa nih?"

"Gini mas, mas nggak usah ke Tanah Abang, biar saya yang ke sana, surat (bukti pembayarannya) biar saya bawa ke Tanah Abang, saya jadi jaminan di sini (nitip ktp di kantor DLLAJ) jadi mobil mas bisa langsung dibawa sekarang, nggak usah nunggu saya balik lagi ke sini (Rawamangun)," saran si Tukang ojek.

"Oke, deal!" kata Iwan

"Berapa ongkosnya?" serbu Iwan 

Belum sempat jawab, Iwan langsung mengeluarkan uang 100 ribu disodorkan ke tukang ojek itu. 

Nggak banyak nanya, dia langsung masuk kantor menyerahkan foto copy KTP nya ke petugas. Sejurus kemudian, petugas datang menghampiri mobil kami dan membuka gembok roda berwarna kuning.

Selesai itu, kami pun bergegas masuk mobil dan Iwan tancap gas, sambil menggerutu, "gila belum 5 menit parkir sudah diangkut aja, hilang 500 ribu duit gue," 

"Ya, hitung-hitung sodakoh, " kata si Bos menimpali.

"Harusnya, pemda menyiapkan lahan parkir yang memadai dong, baru hukum ditegakkan, ini sih, menghukum tapi nggak memberikan solusi," lanjut si Bos.

"Harusnya online bisa lebih cepat, gak harus ke Tanah Abang lagi, kan ada email, atau whatsapp jadi habis bayar di ATM ya sudah selesai ngapain lagi ke sana jauh jauh," Iwan menimpali.

Dengan perut yang mulai keroncongan, Mobil pun melaju kencang ke arah Tol Tanjung Priok tempat meeting kami, dengan pikiran yang masih melayang ke keadaaan yang baru saja saya alami. "Hmmm...online mestinya cepat dan simple, bukan?" dalam hati.