Menumbuhkan (kembali) budaya "Latif" dalam Kehidupan Beragama di Indonesia
 17 Sep 2013 00:16  spiritual  Inspirasi

QS Al Kahfi ayat 19 : walyatalaataf wala yusiranna bikum ahad, artinya berlaku lemah lembutlah kalian. Api tidak akan padam dengan tiupan angin, api akan padam dengan air.  Air simbol kelembutan dan fleksibilitas, Api simbol kemarahan. Air itu menyejukkan. Itulah latif.

Masih hangat dalam ingatan kita akan kasus penyerangan antar kelompok yang terjadi  di  Desa Puger Kulon kec Puger Jember Jawa Timur  beberapa hari yang lalu yang telah menewaskan 1 orang jamaah dari kelompok tertentu.  Bentrok disinyalir dilakukan oleh dua kelompok yang mengatasanamakan dirinya syiah dan bukan syiah.   Apapun itu, peristiwa tersebut menunjukkan sebuah dekadensi (kemerosotan) spiritual atau bahkan dekadensi moral.   kasus serupa juga pernah terjadi di Sampang Madura, kelompok Syiah diserang dan diusir dari kampung halamannya oleh kelompok sebutlah ‘bukan syiah’. Dan banyak kasus penyerangan lainnya yang mengatasnamakan agama.  Faktornya pemicunya adalah  kecurigaan atau tendensi berlebih dari kelompok satu pada  kelompok lainnya.  Curiga karena perbedaan pemahaman agama.  Satu kelompok merasa dirinya ‘ahli syurga’ dan kelompok lain adalah ‘ahli neraka’ alias sesat, pada akhirnya kavling-kavling dan penguasaan wilayah ‘kebenaran’  terjadi.  Yang satu merasa dirinya paling benar dan yang lain salah, akhirnya terjadi main salah-salahan.

Kepercayaan dan keyakinan yang semestinya urusan pribadi nan agung serta mulia berubah menjadi urusan sangat kasar dan menakutkan.  Situasi ini mempertakut (pinjam istilah Vicky P) atau mempersuram kerukunan hidup di masyarakat.  Suatu kelompok menjadi hakim bagi kelompok lain lantas bertolak pinggang petantang-petenteng menyerobot wilayah privasi kepercayaan orang lain.  Monopoli kebenaran dan juga kesombongan jahiliyah dipertontonkan.  Ironisnya semua terjadi di Negara yang kata orang luar sebagai Negara yang agamis, ramah dan berbudaya luhur.  Tapi apa nyana kenyataannya berbalik 180 derajat, yang terjadi justru masyarakat  beragama yang beringas dan pemarah, emosi mudah tersulut, kesenggol sedikit, bacok!!!, berbeda faham sedikit, hajar!!.!.  sebuah Cermin masyarakat yang sakit dan kehilangan pegangan hidup berupa nilai-nilai luhur dan spiritual. 

Islam adalah agama yang penuh dengan nilai-nilai spiritual tinggi, semestinya umatnya pun berspiritual yang agung , berbudi pekerti yang luhur, salah satu bukti ajaran budi pekerti luhur ini dapat dijumpai di dalam alqur’an surah al Kahfi ayat 19,: walyatalaataf wala yusiranna bikum ahad, artinya berlaku lemah lembutlah kalian. Kepada siapa saja. Ayat ini adalah salah satu cerita tentang ashabul kahfi, penghuni gua yang telah tidur selam 309 tahun di dalam gua, kemudia salah seorang diantaranya disuruh untuk ke kota untuk membeli sesuatu (berinteraksi dengan masyarakat).  Ayat ini Bermakna perintah untuk berprilaku lemah lembut. Karena perintah maka tatkala dilaksanakan mendapat pahala, jika tidak dilaksanakan akan berdosa, sepertinya umat islam Indonesia banyak yang tidak tahu ini, sehingga prilaku latif (lemah lembut/sopan) sudah jarang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Ayat ini berada di tengah-tengah mushaf Alqur’an.  Ada satu kata yang sengaja di cetak merah yaitu kata walyatalattaf.  Bisa dilihat pada alquran tempo dulu yang dicetak di Indoensia, untuk mushaf cetakan dari Arab Saudi, sudah tidak tercetak merah. Kenapa kata ini begitu penting sehingga tercetak merah.  Konon katanya tatkala Usman bin Affan terbunuh, darahnya terpercik ke tulisan walyatalattaf di tengah-tengah mushaf yang terbuka.  Itulah sebabnya sekarang pun sengaja dicetak merah untuk mengenang peristiwa itu.
Walyatalattaf berasal dari kata latif yang berarti halus dan lemah lembut.  Sebuah karakter atau perangai/akhlak.  Umat islam harus memiliki perangai yang penuh dengan kelemah lembutan baik kepada siapa saja.  Di dalam asmaul husna pun tercantum kata latif, al hakamu al adlul latif. Memberikan hukum yang adil dan penuh kelembutan.  Persoalan perbedaan pemahaman dalam kehidupan beragama semestinya bisa terselesaikan dengan mengedepankan karakter latif ini.  Bukan dengan kekasaran dan emosi. semua masalah bisa dikomunikasikan apapun itu. 

Alangkah indahnya sifat latif Rasulullah pada kisah ini. Alkisah “Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah ada seorang pengemis Yahudi Buta, dari hari ke hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi Buta itu.
 
Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan?”, Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah, hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah Itu?”, tanya Abu Bakar r.a. “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi Buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha. Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. 
 
Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “siapakah kamu ?”. Abu Bakar r.a menjawab, “aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya. Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW”.
 
Setelah mendengar cerita Abu Bakar r.a. pengemis itu terkejut lalu menangis sambil berkata, “benarkah demikian? selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia malah mendatangiku dengan membawakan makanan setiap pagi, ia begitu mulia…. ” isaknya. Pengemis Yahudi Buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a.” kisah ini menujukkan Sikap lemah lembut dan penuh simpati dan empati yang diamalkan rasulullah terhadap orang yang berbeda keyakinan sekalipun. Apatahlagi kepada yang sama keyakinannya, hanya berbeda masalah khilafiah (kecil).  Latif adalah sebuah keniscayaan dalam interaksi beragama.  Latif adalah solusi hidup berdampingan secara harmonis di dalam masyarakat plural, Indonesia.