KOMUNIKASI NONVERBAL
 30 Jul 2015 14:41  Pengetahuan  Pendidikan

Komunikasi nonverbal adalah penting, sebab apa yang sering kita lakukan mempunyai makna jauh lebih penting daripada apa yang kita katakan.  Ucapan atau ungkapan klise seperti “sebuah gambar sama nilainya dengan seribu kata” menunjukkan alat-alat indra yang kita gunakan untuk menangkap isyarat-isyarat nonverbal sebetulnya berbeda dari hanya kata-kata yang kita gunakan.  Salah satu dari beberapa alasan yang dikemukakan oleh Richard L weaver (1993) bahwa kata-kata pada umumnya memicu salah satu sekumpulan alat indra seperti pendengaran, sedangkan komunikasi nonverbal dapat memicu sejumlah alat indra seperti penglihatan, penciuman, perasaan, untuk menyebutkan beberapa.  Dengan sejumlah alat indra yang teransang tampaknya orang akan merespon isyarat-isyarat nonverbal secara emosional, sedangkan reaksi mereka kepada hanya kata-kata lebih bersifat rasional.  Hal yang sama dapat dibuat orientasi bagi otak kanan dan otak kiri.  Nonverbal cendrung lebih kepada otak kanan yang  bersifat afektif atau emosional.  Kata-kata cenderung lebih kepada otak kiri yang bersifat kognitif atau rasional.

Namun demikian harus jelas bahwa pengetahuan kita mengenai komunikasi nonverbal tidaklah lengkap atau sempurna. Pengenalan pertama mengenai komunikasi nonverbal pada zaman Aristoteles sekitar 400-600 SM, tetapi pendekatan kontemporer mengenai komuniksi nonverbal dapat ditelusuri pada karya Charles Darwin dalam bukunya The Expression of Emotions in Man and Animal. Tetapi meskipun sejumlah besar studi dan pendekatan dewasa ini, kita saja belajar mengenai cara-cara bagaimana  komunikasi nonverbal mempengaruhi manusia.  kita masih saja belajar mengenai perbedaan anatara manusia dalam menyampaikan komunikasi nonverbal dan mengerti komunikasi nonverbal itu. Kita juga masih saja belajar cara-cara di mana komunikasi nonverbal mempunyai arti dalam kehidupan manusia.

A.    Defenisi Komunikasi Nonverbal

Menurut Muhammad Budyatna (2011), Komunikasi nonverbal adalah setiap informasi atau emosi dikomunikasikan tanpa menggunakan kata-kata atau nonlinguistk.  Komunikasi nonverbal bisa berupa ekspresi wajah, isyarat, sikap, pola nafas, gerakan mata, dan ketegangan otot.  Komunikasi nonverbal juga sering disebut sebagai komunikasi bahasa tubuh.

Prilaku atau komunikasi nonverbal adalah dimensi komunikasi manusia yang pokok.  Sistem nonverbal menyumbang 65 – 93 porsen dari total makna komunikasi (Birdwhistell,1970; Hickson, Stack & Moore,2004; Mehrabian, 1981). Menurut riset yang lain, dampak total dari komunikasi kita terdiri atas kata-kata (7 %), nada suara (38%), dan bahasa tubuh (55%) (Adam Khoo dalam bukunya berjudul ‘Master Your Mind Design Your Destiny).


A.    Ciri-ciri Komunikasi Nonverbal

Menurut Muhammad Budyatna dan Leila Mona Ganiem (2011), ciri atau karakteristik komunikasi nonverbal dapat dibagi menjadi enam, yaitu :

1.      1. Memiliki sifat berkesinambungan

Kata-kata yang keluar dari mulut kita ada waktunya atau sewaktu-waktu, isyarat-isyarat nonverbal kita keluar secara berkesinambungan.  Sebagai contoh, seseorang mengajukan sebuah pertanyaan kepada kita.  Kecuali bagaimana kita meresponnya, orang itu yang mengajukan pertanyaan kepada kita mungkin akan mencari petunjuk-petunjuk terhadap reaksi kita.  Apakah kita akan berbicara atau tidak ia akan lebih dekat menatap wajah kita, tubuh dalam arti gerakan atau postur, suara kita.  Terdapat isyara-isyarat yang digunakan sebagai dasar untuk mengerti respon kita.  Soalnya ialah bahwa kita mengirim dan menerima pesan-pesan nonverbal dalam arus yang tidak terputus dan terus menerus.  Selagi kita mengamati sikap dan perangai seseorang, orang tersebut mungkin sedang mengamati kita juga.

2.      2. Komunikasi nonverbal kaya akan makna

Coba pikirkan saat terakhir anda pergi ke dokter ketika anda merasakan ada gejala-gejala penyakit tetapi tidak tahu penyakit apa yang anda derita.  Anda mungkin mendengarkan ketika dokter membuat anda menjadi bingung dan mungkin juga takut drngan mrnggunakan istilah-istilah teknis yang bersuku kata banyak atau polysyllabic untuk menjelaskan penyakit anda.  Tetapi apa yang anda lakukan? Anda menatap wajah dokter dengan hati-hati untuk melihat apakah anda dapat menemukan penyakit apa yang sebenarnya anda derita.  Bagaimana si dokter mengucapkan kata-kata itu.  Suara macam apa yang keluar dari mulut si dokter, misalnya seperti “hmm-m-m” atau “aha!”yang anda dapat deteksinya? Dalam situasi yang demikian, kita mencari isyarat-isyarat nonverbal bahkan yang paling kecil pun untuk menafsirkannya, terutama apabila kita tidak mengerti isyarat-isyarat verbal. 

3.      3.Komunikasi nonverbal dapat membingungkan

Meskipun komunikasi nonverbal kaya akan makna, tetapi dapat juga membingungkan. Isyarat-isyarat tertentu dapat berarti sesuatu yang secara keseluruhan berbeda dari apa yang kita bayangkan.  Seorang pria yang duduk di sebuah sofa sambil menyilangkan kaki disamping seorang wanita.  Nyatanya pria tersebut tidak mempunyai perhatian terhadap wanita itu karena kaki yang ia silangkan berada jauh dari wanita tersebut.  Ada orang yang selalu menyilangkan kakinya yang kanan ke kaki yang kiri, apapaun alasannya.  Itu adalah kebiasaan mereka, terasa nyaman dan tidak mempunyai makna tertentu sejauh komunikasi nonverbal berlangsung kecuali mungkin untuk menunjukkan bahwa mereka merasa senang denagn situasi seperti itu.  Ini merupaka sesuatu hal yang baik untuk menunjukkkan perbedaan anatar perilaku yang terjadi secara alami dan otomatis, dan komunikasi yang terjadi dengan maksud dan tujuan.  Kita juga tidak dapat berasumsi bahwa wanita yang menyilangkan tangan atau bersedekap adalah pertanda sebagai orang yang berpikirna sempit dan kaku, bisa saja karena ia merasa dingin.  Kita harus berhati-hati dalam menafsirkan isyarat-isyarat nonverbal.  Kita tidak selalu mendapatkan informasi yang cukup untuk membuat penilaian, dan dugaan-dugaan kita bisa saja jauh dari akurat dan tepat.

4.      4. Komunikasi nonverbal menyampaikan emosi

Apabila anda merenungkan mengenai ini, bahwa objek-objek dan tindakan-tindakan dapat membangkitkan lebih banyak emosi daripada kata-kata karena objek dan tindakan kurang abstrak dibandingkan kata-kata.  Kata-kata biasanyan lebih banyak digunakan pada penampilan intelelektual.  Mendengar bahwa seseorang berteriak atau terluka hamper tidak sekuat seperti melihat orang itu berteriak atau terluka.  Apabila kita ingin menunjukkan kesungguhan atau ketulusan hati, maka wajah dan isyarat tubuh kita agaknya akan lebih efektif daripada ucapan-ucapan kita, meskipun kata atau ucapan yang diperkuat oleh isyarat-isyarat nonverbal akan menunjukkan pesan yang paling benar atau dapat dipercaya.  Karena isyarat-isyarat nonverbal terikat begitu dekat dengan emosi, sejauh mana pengertian kita mengenai pesan-pesan nonverbal bergantung kepada bagaimana empatiknya kita.  Orang yang empatik dan tajam perhatiannya amat memahami isyarat-isyarat nonverbal.  Memahami ekspresi verbal memerlukan kemampuan yang lebih.  Ekspresi nonverbal, dipelajari lebih dini dan seringkali terkait secara dekat kepada emosi manusia secara universal, adakalanya lebih mudah untuk memberikan makna itu bisa kurang sempurna keakuratannya.

5.      5.Komunikasi Nonverbal dikendalikan oleh norma-norma dan peraturan mengenai kepatutan

Norma dan peraturan pada umumnya amat berbeda dari satu budaya ke budaya yang lain.  Kebanyakan norma dan peraturan kita pelajari sejak kecil dari bimbingan orang tua atau keluarga.  Beberapa dari norma dan peraturan kita pelajari dari hasil pengamatan orang lain.  Ada juga yang kita pelajari dari kesalahn dan kegagalan dan hukuman.  Misalnya kita belajar untuk tidak mengiterupsi ketika seseorang sedang berbicara, untuk tidak mengkritik orang lain di muka umum, atau tidak menggunakan bahasa vulgar di hadapan para anggota yang berbeda gender.

6.      6. Terikat pada budaya

Ben Thompson berkunjung ke Jepang untuk menegosiasikan kerjasama dengan Haru watanabe.  Sepertinya mereka melihat keuntungan dari penggabungan dari semua sumber daya mereka.  Namun Thompson merasa ada yang salah pada negosiasinya.  Setiap kali mereka bicara, Watanabe terlihat tidak tenang dan menolak kontak mata.  Thompson berpikir apakah Watanabe sedang menyembunyikan sesuatu.  Sementara itu, Watanabe berpikir mengapa Thompson begitu kasar kalau memang ia ingin kerjasama. 

Ternyata, dilihat dari sisi komunikasi nonverbal, jelas disini ada perbedaan budaya yang berpengaruh.  Disatu sisi, Thompson orang Barat, memaknai kontak mata sebagai sebuah tanda kejujuran dan hormat, sementara sisi lainnya, Watanabe yang berbudaya jepang, menganggap  bahwa kontak mata adalah wujud prilaku kasar dan mengganggu.

Budaya pada hakikatnya merupakan gejala nonverbal.  Yakni kebanyakan aspek dari budaya kita dipelajari melalui pengamatan dan mencontoh bukan dengan pengajaran verbal secara eksplisit.  Prilaku nonverbal mengkomunikasikan keyakinan, sikap, dan nilai-nilai budaya kepada pihak lainnya.  Itulah sebabnya kebanyakan orang tidak menyadari dengan perilaku nonverbalnya sendiri.  Hal tersebut diperankan tanpa pikir, spontan dan tanpa sadar.  Tetapi ini adalah tepat sekali karena halini sering kali sulit untuk mengidentifikasi dan menguasai komunikasi nonverbal dari budaya lain.  Kita hanya tahu bahwa sesuatu itu tidaklah cocok.  Budaya adalah satu yang paling abadi, paling kuat, pembentuk yang tidak terlihat dari perilaku kita (weaver II, 1993).


A.    Bentuk-bentuk Komunikasi Nonverbal

Menurut Julia T Wood dalam bukunya, Komunikasi Interpersonal Interaksi Keseharian, tipe-tipe komunikasi dibagi antara lain:

1.      1.Kinesika

Kinesika adalah posisi dan gerakan tubuh, termasuk wajah.  Kita memberi tanda dengan jelas mengenai bagaimana perasaan kita dan menilai diri melalui bagaimana kita mengendalikan tubuh. Seseorang yang berjalan dengan cepat dengan ekspresi muka yang pasti akan dipersepsikan memiliki tekad daripada seseorang yang berjalan luntang-lantung dengan pandangan yang tidak fokus. Berbicara dengan menggunakan tangan, mimik muka, gerakan mata adalah bentuk kinesika.

2.      2. Haptics

Haptics adalah indera peraba atau sentuhan.  Banyak peneliti yang percaya bahwa menyentuh atau disentuh adalah esensi kehidupan yang sehat (Benyamin & Werner, 2004; Field,2003).  Bayi yang didekap erat dan lembut berkembang menjadi orang dewasa yang percaya diri yang memiliki gaya kelekatan yang aman (Field, 2003; Mwakalye & DeAngelis,1995).

Sentuhan juga mengkomunikasikan kekuasaan dan status.  Orang dengan status yang tinggi menyentuh orang lain dan menyerbu ruang merdeka dibandingkan denga yang dilakukan oleh orang denga  status lebih rendah (Hall, 2006; Hall et al.,2004).

3.      3Tampilan fisik

Kebudayaan Barat menempatkan penilaian yang tinggi yang ekstrem pada tampilan fisik.  Seperti pada interaksi tatap muka, kebanyak orang memperhatikan bagaimana penampilan orang lain.  Kita sering menilai awal seseorang dengan dari penampilannya, atau kesan pertama.

Apakah tampilan fisik memiliki pengaruh pada hasil yang kita dapatkan? Mungkin saja.  Sebuah studi pada 2500 pengacara laki-laki dan perempuan menunjukkan hubungan antara tampilan fisik dan mendapatkan kekuasaan.  Pengacara yang dianggap menarik mendapatkan 14%kekuasan lebih tinggi daripada yang dianggap kurang menarik (“Good-Looking Lawyers”, 1996).

4.      4. Artefak

Artefak adalah objek personal yang digunakan untuk mengumumkan identitas dan warisan kita, juga untuk personalisasi lingkungan kita.  Banyak orang yang menggunakan avatar untuk melambangkan identitas dalam komunikasi di dunia maya.  Dalam komunikasi tatap muka, kita membentuk citra melalui bagaimana  kita berpakaian dan apa barang yang kita bawa atau gunakan.  Kita menggunakan artefak untuk mendefinisikan teritori pribadi (Wood, 2006).  Tentara menggunakan seragam, dokter menggunaka baju putih, mahasiswa dengan tas ransel, pekerja kerah biru dengan seragam dan sepatu boots.

5.      5. Paralanguage

Paralanguage adalah komunikasi yang diucapkan (vokal) tapi tidak menggunakan kata-kata.  Misalnya bisikan, hembusan nafas, dan kualitas vokal seperti volume, titinada, dan perubahan nada.  Aksen dan pengucapan dan keragaman yang kompleks pada kalimat juga termasuk paralanguage. Paralanguage negatif seperti mencibir dan menertawakan denga nada pada suara, diasosiakan dengan ketidakpuasan pada pernikahan (Gottman, Markman, &Notarius,1977; Noller,1987). Nada yang mengejek atau kasar mengkomunikasikan cemoohan atau ketidaksukaan lebih empati daripada kata-kata.

6.      6. Keheningan

Keheningan justru dapat menyampaikan pesan yang kuat. “saya tidak berbicara dengan anda” sebenarnya membicarakan banyak hal.  Kita menggunakan keheningan untuk mengkomunikasikan makna yang berbeda, contohnya, keheningan dapat menyimbolkan kesenangan saat suasana intim yang sangat nyaman, sehingga orang-orang tidak perlu bicara.  Keheningan juga dapat menandakan suasana yang canggung seperti saat pertama kali berkenalan dengan orang baru di kereta api atau bis.

Pada bebeapa kasus, keheningan terkadang digunakan untuk menyangkal keberadaan orang lain.  Pada beberapa keluarga anak-anak disiplinkan dengan cara diacuhkan.  Juga kadang mendiamkan pada pasangan dan menolak untuk berbicara dengannya adalah bentuk keheningan.


KESIMPULAN

Komunikasi nonverbal sama pentingnya dengan komunikasi verbal bahkan mungkin lebih, karena dapat mengungkapkan sesuatu lebih dalam dan mengena yang kadang tidak bisa diungkapkan denga kata-kata.  Kita bisa menilai orang lain dengan memperhatikan komunikasi nonverbal yang  mereka gunakan.  Mereka bisa saja menyembunyikan atau memanipulasi komunikasi verbalnya, namun sangat sulit untuk menyembunyikan bahasa tubuhnya.  Orang yang berkata saya tidak gugup, namun tangannya kelihatan gemetar, atau suaranya serak, berkeringat dan mimik wajah yang aneh, itu pertanda bahwa komunikasi nonverbal lebih bisa diandalkan.

Menurut Muhammad Budyatna (2011), Komunikasi nonverbal adalah setiap informasi atau emosi dikomunikasikan tanpa menggunakan kata-kata atau nonlinguistk.  Komunikasi nonverbal bisa berupa ekspresi wajah, isyarat, sikap, pola nafas, gerakan mata, dan ketegangan otot.  Komunikasi nonverbal juga sering disebut sebagai komunikasi bahasa tubuh.

Selain itu, ada beberapa ciri-ciri komunikasi nonverbal diantaranya, Memiliki sifat berkesinambungan, Komunikasi nonverbal kaya akan makna, komunikasi nonverbal dapat membingungkan, komunikasi nonverbal menyampaikan emosi, komunikasi nonverbal dikendalikan oleh norma-norma dan peraturan-peraturan mengenai kepatutan /kelayakan, dan komunikasi nonverbal terikat budaya.

Ada beberapa bentuk komunikasi nonverbal diantaranya, kinesik, haptics, tampilan fisik, artefak , paralanguage dan keheningan. 

 

DAFTAR PUSTAKA

Budyatna, Muhammad; & Ganiem, Leila Mona. 2011. Teori komunikasi antarpribadi. Jakarta : kencana.

Soyomukti, nurani. 2010.  Pengantar ilmu komunkasi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Khoo, Adam; Tan, Stuart.2013. Master your mind Design your destiny. Jakarta : Elex Media komputindo.

Wood, T Julia. 2013. Komunikasi Teori dan Praktik. Jakarta : Salemba Humanika.

Wood, Julia. 2013. Komunikasi Interpersonal Interakasi Keseharian. Jakarta : Salemba Humanika.


(Muh.Hatta Tahir : Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)-  IAI AL Azis- Indramayu-Jawa Barat)